Sabtu, 27 Maret 2010

Pilihan Hidup


Apakah manusia punya pihan dalam hidupnya?
Ataukah manusia hanya menjalankan hidup yang telah dipilihkan untuknya?
Apakah keadilan memang benar ada – untuk manusia – untuk hamba – untuk budak Tuhan?
------------------------------------------------------------------------------------------------------------
Perempuan jalang di simpang jalan
Menyimpan tempayan dalam dada
Para pejabat datang menyapa
Melepas nafsu dan wanjalaha

Barusan nonton film “Jamila dan Sang Presiden”, film yang diadaptasi dari teater berjudul “Pelacur dan Sang Presiden”. Kalo ga salah tadinya film ini mau menggunakan judul yang sama dengan versi teaternya tapi judulnya terlalu vulgar, jadilah ‘Pelacur’ diganti ‘Jamila’.

Ibu menyebut kelahiranku adalah cahaya.
Ibu berbicara pada ku tentang kesucian dan harga diri.
Dan aku di sini Bu.
Di tengah kegelapan yang pekat.
Yang tak punya ujung.
Kesucian seperti apa bu?
Harga diri yang bagaimana?

Cerita film ini tentang seorang wanita yang dilahirkan di keluarga miskin. Ia dijual ayahnya. Akhirnya Jamila melarikan diri ke Jakarta, tinggal di keluarga terhormat. Tapi kedua laki-laki di keluarga tersebut bertingkah menjijikan. Seperti tidak memiliki pilihan dalam hidupnya, Jamila seperti terlahir menjadi pelacur dan pembunuh. Semakin lama Jamila tidak tahan dengan hidupnya. Ia memilih mengakhiri penderitaan hidupnya. Sebuah pilihan dalam hidupnya dan mati yang Ia pilih.
Adaptasi dari teaternya terasa banget. Walaupun gw belum pernah nonton teater, tapi dari dialog dan aktingnya beda banget dari film-film kebanyakan. Sangat khas.
Gw rekomendasiin ni film. Asli bagus banget!!!

4 komentar: