Kamis, 23 Februari 2012

Kunjungan BJ Habibie ke Kantor Manajemen Garuda Indonesia (co-pas)

Kunjungan BJ Habibie ke Kantor Manajemen Garuda Indonesia
Garuda City Complex, Bandara Soekarno-Hatta
12 Januari 2012

Tulisan di bawah ini mungkin sudah pernah dibaca di media lai
Pada usianya 74 tahun, mantan Presiden RI, BJ Habibie secara mendadak mengunjungi fasilitas Garuda Indonesia didampingi oleh putra sulung, Ilham Habibie dan keponakannya(?), Adri Subono, juragan Java Musikindo.
Kunjungan beliau dan rombongan disambut oleh President & CEO, Bapak Emirsyah Satar disertai seluruh Direksi dan para VP serta Area Manager yang sedang berada di Jakarta.
Dalam kunjungan ini, diputar video mengenai Garuda Indonesia Experience dan presentasi perjalanan kinerja Garuda Indonesia sejak tahun 2005 hingga tahun 2015 menuju Quantum Leap.
Sebagai “balasan” pak Habibie memutarkan video tentang penerbangan perdana N250 di landasan bandara Husein Sastranegara, IPTN Bandung tahun 1995 (tujuh belas tahun yang lalu!).
Entah, apa pasalnya dengan memutar video ini?
Video N250 bernama Gatotkaca terlihat roll-out kemudian tinggal landas secara mulus di-escort oleh satu pesawat latih dan sebuah pesawat N235. Pesawat N250 jenis Turboprop dan teknologi glass cockpit dengan kapasitas 50 penumpang terus mengudara di angkasa Bandung.
Dalam video tsb, tampak para hadirin yang menyaksikan di pelataran parkir, antara lain Presiden RI Bapak Soeharto dan ibu, Wapres RI bapak Soedarmono, para Menteri dan para pejabat teras Indonesia serta para teknisi IPTN. Semua bertepuk tangan dan mengumbar senyum kebanggaan atas keberhasilan kinerja N250. Bapak Presiden kemudian berbincang melalui radio komunikasi dengan pilot N250 yang di udara, terlihat pak Habibie mencoba mendekatkan telinganya di headset yang dipergunakan oleh Presiden Soeharto karena ingin ikut mendengar dengan pilot N250.
N250 sang Gatotkaca kembali pangkalan setelah melakukan pendaratan mulus di landasan..................
Di hadapan kami, BJ Habibie yang berusia 74 tahun menyampaikan cerita yang lebih kurang sbb:
“Dik, anda tahu..............saya ini lulus SMA tahun 1954!” beliau membuka pembicaraan dengan gayanya yang khas penuh semangat dan memanggil semua hadirin dengan kata “Dik” kemudian secara lancar beliau melanjutkan.................“Presiden Soekarno, Bapak Proklamator RI, orator paling unggul, .......itu sebenarnya memiliki visi yang luar biasa cemerlang! Ia adalah Penyambung Lidah Rakyat! Ia tahu persis sebagai Insinyur.........Indonesia dengan geografis ribuan pulau, memerlukan penguasaan Teknologi yang berwawasan nasional yakni Teknologi Maritim dan Teknologi Dirgantara. Kala itu, tak ada ITB dan tak ada UI. Para pelajar SMA unggulan berbondong-bondong disekolahkan oleh Presiden Soekarno ke luar negeri untuk menimba ilmu teknologi Maritim dan teknologi dirgantara. Saya adalah rombongan kedua diantara ratusan pelajar SMA yang secara khusus dikirim ke berbagai negara. Pendidikan kami di luar negeri itu bukan pendidikan kursus kilat tapi sekolah bertahun-tahun sambil bekerja praktek. Sejak awal saya hanya tertarik dengan ‘how to build commercial aircraft’ bagi Indonesia. Jadi sebenarnya Pak Soeharto, Presiden RI kedua hanya melanjutkan saja program itu, beliau juga bukan pencetus ide penerapan ‘teknologi’ berwawasan nasional di Indonesia. Lantas kita bangun perusahaan-perusahaan strategis, ada PT PAL dan salah satunya adalah IPTN.
Sekarang Dik,............anda semua lihat sendiri..............N250 itu bukan pesawat asal-asalan dibikin! Pesawat itu sudah terbang tanpa mengalami ‘Dutch Roll’ (istilah penerbangan untuk pesawat yang ‘oleng’) berlebihan, tenologi pesawat itu sangat canggih dan dipersiapkan untuk 30 tahun kedepan, diperlukan waktu 5 tahun untuk melengkapi desain awal, satu-satunya pesawat turboprop di dunia yang mempergunakan teknologi ‘Fly by Wire’ bahkan sampai hari ini. Rakyat dan negara kita ini membutuhkan itu! Pesawat itu sudah terbang 900 jam (saya lupa persisnya 900 atau 1900 jam) dan selangkah lagi masuk program sertifikasi FAA. IPTN membangun khusus pabrik pesawat N250 di Amerika dan Eropa untuk pasar negara-negara itu.Namun, orang Indonesia selalu saja gemar bersikap sinis dan mengejek diri sendiri ‘apa mungkin orang Indonesia bikin pesawat terbang?’
Tiba-tiba, Presiden memutuskan agar IPTN ditutup dan begitu pula dengan industri strategis lainnya.
Dik tahu................di dunia ini hanya 3 negara yang menutup industri strategisnya, satu Jerman karena trauma dengan Nazi, lalu Cina (?) dan Indonesia.............
Sekarang, semua tenaga ahli teknologi Indonesia terpaksa diusir dari negeri sendiri dan mereka bertebaran di berbagai negara, khususnya pabrik pesawat di Bazil, Canada, Amerika dan Eropa................
Hati siapa yang tidak sakit menyaksikan itu semua.....................?
Saya bilang ke Presiden, kasih saya uang 500 juta Dollar dan N250 akan menjadi pesawat yang terhebat yang mengalahkan ATR, Bombardier, Dornier, Embraer dll dan kita tak perlu tergantung dengan negara manapun.
Tapi keputusan telah diambil dan para karyawan IPTN yang berjumlah 16 ribu harus mengais rejeki di negeri orang dan gilanya lagi kita yang beli pesawat negara mereka!”
Pak Habibie menghela nafas.......................
Ini pandangan saya mengenai cerita pak Habibie di atas;
Sekitar tahun 1995, saya ditugaskan oleh Manager Operasi (JKTOF) kala itu, Capt. Susatyawanto untuk masuk sebagai salah satu anggota tim Airline Working Group di IPTN dalam kaitan produksi pesawat jet sekelas B737 yang dikenal sebagai N2130 (kapasitas 130 penumpang). Saya bersyukur, akhirnya ditunjuk sebagai Co-Chairman Preliminary Flight Deck Design N2130 yang langsung bekerja dibawah kepala proyek N2130 adalah Ilham Habibie. Kala itu N250 sedang uji coba terus-menerus oleh penerbang test pilot (almarhum) Erwin. Saya turut mendesain rancang-bangun kokpit N2130 yang serba canggih berdasarkan pengetahuan teknis saat menerbangkan McDonnel Douglas MD11. Kokpit N2130 akan menjadi mirip MD11 dan merupakan kokpit pesawat pertama di dunia yang mempergunakan LCD pada panel instrumen (bukan CRT sebagaimana kita lihat sekarang yang ada di pesawat B737NG). Sebagian besar fungsi tampilan layar di kokpit juga mempergunakan “track ball atau touch pad” sebagaimana kita lihat di laptop. N2130 juga merupakan pesawat jet single aisle dengan head room yang sangat besar yang memungkinkan penumpang memasuki tempat duduk tanpa perlu membungkukkan badan. Selain high speed sub-sonic, N2130 juga sangat efisien bahan bakar karena mempergunakan winglet, jauh sebelum winglet dipergunakan di beberapa pesawat generasi masa kini.
Saya juga pernah menguji coba simulator N250 yang masih prototipe pertama.................
N2130 narrow body jet engine dan N250 twin turboprop, keduanya sangat handal dan canggih kala itu.........bahkan hingga kini.
Lamunan saya ini, berkecamuk di dalam kepala manakala pak Habibie bercerita soal N250, saya memiliki kekecewaan yang yang sama dengan beliau, seandainya N2130 benar-benar lahir.............kita tak perlu susah-susah membeli B737 atau Airbus 320.
***
Pak Habibie melanjutkan pembicaraannya....................
“Hal yang sama terjadi pada prototipe pesawat jet twin engines narrow body, itu saya tunjuk Ilham sebagai Kepala Proyek N2130. Ia bukan karena anak Habibie, tapi Ilham ini memang sekolah khusus mengenai manufakturing pesawat terbang, kalau saya sebenarnya hanya ahli dalam bidang metalurgi pesawat terbang. Kalau saja N2130 diteruskan, kita semua tak perlu tergantung dari Boeing dan Airbus untuk membangun jembatan udara di Indonesia”.
“Dik, dalam industri apapun kuncinya itu hanya satu QCD, Q itu Quality, Dik, anda harus buat segala sesuatunya berkualitas tinggi dan konsisten? C itu Cost, Dik, tekan harga serendah mungkin agar mampu bersaing dengan produsen sejenis? D itu Delivery, biasakan semua produksi dan outcome berkualitas tinggi dengan biaya paling efisien dan disampaikan tepat waktu!Itu saja!”
 Pak Habibie melanjutkan penjelasan tentang QCD sbb:
 “Kalau saya upamakan, Q itu nilainya 1, C nilainya juga 1 lantas D nilainya 1 pula, jika dijumlah maka menjadi 3. Tapi cara kerja QCD tidak begitu Dik.............organisasi itu bekerja saling sinergi sehingga yang namanya QCD itu bisa menjadi 300 atau 3000 atau bahkan 30.000 sangat tergantung bagaimana anda semua mengerjakannya, bekerjanya harus pakai hati Dik..................”
Tiba-tiba, pak Habibie seperti merenung sejenak mengingat-ingat sesuatu ...........................
“Dik, ..........saya ini memulai segala sesuatunya dari bawah, sampai saya ditunjuk menjadi Wakil Dirut perusahaan terkemuka di Jerman dan akhirnya menjadi Presiden RI, itu semua bukan kejadian tiba-tiba. Selama 48 tahun saya tidak pernah dipisahkan dengan Ainun, ...........ibu Ainun istri saya. Ia ikuti kemana saja saya pergi dengan penuh kasih sayang dan rasa sabar. Dik, kalian barangkali sudah biasa hidup terpisah dengan istri, you pergi dinas dan istri di rumah, tapi tidak dengan saya. Gini ya............saya mau kasih informasi........... Saya ini baru tahu bahwa ibu Ainun mengidap kanker hanya 3 hari sebelumnya, tak pernah ada tanda-tanda dan tak pernah ada keluhan keluar dari ibu........................”
Pak Habibie menghela nafas panjang dan tampak sekali ia sangat emosional serta mengalami luka hati yang mendalam.............................seisi ruangan hening dan turut serta larut dalam emosi kepedihan pak Habibie, apalagi aku tanpa terasa air mata mulai menggenang.
Dengan suara bergetar dan setengah terisak pak Habibie melanjutkan........................
“Dik, kalian tau.................2 minggu setelah ditinggalkan ibu............suatu hari, saya pakai piyama tanpa alas kaki dan berjalan mondar-mandir di ruang keluarga sendirian sambil memanggil-manggil nama ibu......... Ainun......... Ainun ................. Ainun ..............saya mencari ibu di semua sudut rumah.
Para dokter yang melihat perkembangan saya sepeninggal ibu berpendapat ‘Habibie bisa mati dalam waktu 3 bulan jika terus begini..............’ mereka bilang ‘Kita (para dokter) harus tolong Habibie’.
Para Dokter dari Jerman dan Indonesia berkumpul lalu saya diberinya 3 pilihan;
1. Pertama, saya harus dirawat, diberi obat khusus sampai saya dapat mandiri meneruskan hidup. Artinya saya ini gila dan harus dirawat di Rumah Sakit Jiwa! 2. Opsi kedua, para dokter akan mengunjungi saya di rumah, saya harus berkonsultasi terus-menerus dengan mereka dan saya harus mengkonsumsi obat khusus. Sama saja, artinya saya sudah gila dan harus diawasi terus............... 3. Opsi ketiga, saya disuruh mereka untuk menuliskan apa saja mengenai Ainun, anggaplah saya bercerita dengan Ainun seolah ibu masih hidup.
Saya pilih opsi yang ketiga............................”
Tiba-tiba, pak Habibie seperti teringat sesuatu (kita yang biasa mendengarkan beliau juga pasti maklum bahwa gaya bicara pak Habibie seperti meloncat kesana-kemari dan kadang terputus karena proses berpikir beliau sepertinya lebih cepat dibandingkan kecepatan berbicara dalam menyampaikan sesuatu) ...................... ia melanjutkan pembicaraannya;
“Dik, hari ini persis 600 hari saya ditinggal Ainun..............dan hari ini persis 597 hari Garuda Indonesia menjemput dan memulangkan ibu Ainun dari Jerman ke tanah air Indonesia.............
Saya tidak mau menyampaikan ucapan terima kasih melalui surat............. saya menunggu hari baik, berminggu-minggu dan berbulan-bulan untuk mencari momen yang tepat guna menyampaikan isi hati saya. Hari ini didampingi anak saya Ilham dan keponakan saya, Adri maka saya, Habibie atas nama seluruh keluarga besar Habibie mengucapkan terima kasih sebesar-besarnya, kalian, Garuda Indonesia telah mengirimkan sebuah Boeing B747-400 untuk menjemput kami di Jerman dan memulangkan ibu Ainun ke tanah air bahkan memakamkannya di Taman Makam Pahlawan. Sungguh suatu kehormatan besar bagi kami sekeluarga. Sekali lagi, saya mengucapkan terima kasih atas bantuan Garuda Indonesia”
Seluruh hadirin terhenyak dan saya tak kuasa lagi membendung air mata..............................
Setelah jeda beberapa waktu, pak Habibie melanjutkan pembicaraannya;
“Dik, sebegitu banyak ungkapan isi hati kepada Ainun, lalu beberapa kerabat menyarankan agar semua tulisan saya dibukukan saja, dan saya menyetujui.....................
Buku itu sebenarnya bercerita tentang jalinan kasih antara dua anak manusia. Tak ada unsur kesukuan, agama, atau ras tertentu. Isi buku ini sangat universal, dengan muatan budaya nasional Indonesia. Sekarang buku ini atas permintaan banyak orang telah diterjemahkan ke beberapa bahasa, antara lain Inggris, Arab, Jepang..... (saya lupa persisnya, namun pak Habibie menyebut 4 atau 5 bahasa asing).Sayangnya buku ini hanya dijual di satu toko buku (pak Habibie menyebut nama satu toko buku besar), sudah dicetak 75.000 eksemplar dan langsung habis. Banyak orang yang ingin membaca buku ini tapi tak tahu dimana belinya. Beberapa orang di daerah di luar kota besar di Indonesia juga mengeluhkan dimana bisa beli buku ini di kota mereka.
Dik, asal you tahu............semua uang hasil penjualan buku ini tak satu rupiahpun untuk memperkaya Habibie atau keluarga Habibie. Semua uang hasil penjualan buku ini dimasukkan ke rekening Yayasan yang dibentuk oleh saya dan ibu Ainun untuk menyantuni orang cacat, salah satunya adalah para penyandang tuna netra. Kasihan mereka ini sesungguhnya bisa bekerja dengan nyaman jika bisa melihat.
Saya berikan diskon 30% bagi pembeli buku yang jumlah besar bahkan saya tambahkan lagi diskon 10% bagi mereka karena saya tahu, mereka membeli banyak buku pasti untuk dijual kembali ke yang lain.
Sekali lagi, buku ini kisah kasih universal anak manusia dari sejak tidak punya apa-apa sampai menjadi Presiden Republik Indonesia dan Ibu Negara. Isinya sangat inspiratif...................”
(pada kesempatan ini pak Habibie meminta sesuatu dari Garuda Indonesia namun tidak saya tuliskan di sini mengingat hal ini masalah kedinasan).
Saya menuliskan kembali pertemuan pak BJ Habibie dengan jajaran Garuda Indonesia karena banyak kisah inspiratif dari obrolan tersebut yang barangkali berguna bagi siapapun yang tidak sempat menghadiri pertemuan tsb. Sekaligus mohon maaf jika ada kekurangan penulisan disana-sini karena tulisan ini disusun berdasarkan ingatan tanpa catatan maupun rekaman apapun.
Jakarta, 12 Januari 2012
Salam,
Capt. Novianto Herupratomo

Kamis, 06 Oktober 2011

Untuk Mengenang Steve Jobs


Pagi tadi saya dapat sms dari pacar saya, katanya Steve Jobs meninggal. Siapa Steve Jobs? CEO Apple, ya, pasti sudah banyak yang tahu. Tiba-tiba saya jadi ingat kemarin saya dengan teman saya ngomongin Apple. Perusahaan yang punya ide cemerlang dalam logo, konsisten dalam branding.
Sorenya, setelah lama mendekam di kamar kosan seharian, saya coba search beliau. Web Apple langsung majang foto beliau. Sampai akhirnya saya masuk ke web okezone, beberapa informasi di post saya kali ini bersumber dari sana.
Setelah di vonis kanker pankreas, Steve pernah berpidato di Stanford University pada tahun 2005. Pidato itu saya post di sini, dan saya tidak akan menuliskan pendapat saya pada isi pidato Steve. Karena saya yakin yang membaca bisa menarik pendapatnya sendiri.
Saya drop out dari Reed College setelah 6 bulan pertama kuliah, tetapi kemudian saya masuk kuliah lagi selama 18 bulan atau lebih, sebelum aku benar-benar berhenti. Jadi, mengapa saya drop out?
Ini dimulai sebelum saya lahir. Ibu kandung saya adalah seorang mahasiswi muda yang sudah menikah, dan dia memutuskan untuk memberikan saya kepada seseorang untuk diadopsi. Dia merasa sangat yakin bahwa saya harus diadopsi oleh keluarga sarjana, jadi semuanya sudah siap bagi saya untuk diadopsi pada saat lahir oleh seorang pengacara dan istrinya. Sebetulnya saya adalah bayi yang diadopsi di menit terakhir, karena calon orangtua adopsi itu menginginkan anak perempuan. Maka orangtua adopsi saya, yang ada di daftar urut berikutnya, mendapatkan telepon di tengah malam yang menanyakan: "Kami memiliki bayi laki-laki yang tak terduga, apakah Anda berminat?" Mereka berkata: "Tentu saja." Ibu kandung saya lalu mengetahui bahwa ibu (adopsi) saya tidak pernah lulus dari kuliah dan ayah saya tidak pernah lulus dari sekolah tinggi. Dia, ibu kandung saya pun menolak untuk menandatangani surat adopsi akhir. Sikapnya baru melunak beberapa bulan kemudian, ketika orangtua adopsi saya berjanji akan menyekolahkan saya sampai perguruan tinggi.
Dan 17 tahun kemudian saya memang pergi ke perguruan tinggi. Tapi aku naif memilih universitas yang hampir sama mahalnya dengan Stanford, sehingga seluruh tabungan orantua saya yang hanya kelas pekerja harus habis untuk biaya kuliah saya. Setelah enam bulan, saya tidak bisa melihat nilai di dalamnya. Aku tidak tahu apa yang ingin saya lakukan dengan hidup saya dan bagaimana kuliah akan membantu saya menemukannya. Dan di sini saya sudah menghabiskan seluruh uang orang tua saya seumur hidup mereka. Jadi saya memutuskan untuk drop out dan percaya bahwa semuanya akan baik-baik saja setelah saya keluar. Itu cukup menakutkan pada saat itu, tapi melihat ke belakang itu adalah salah satu keputusan terbaik yang pernah dibuat. Sebelum saya berhenti saya sempat mengambil kelas-kelas yang diperlukan tapi itu tidak menarik minat saya.
Saya tidak punya kamar kos sehingga harus menebeng tidur di lantai kamar teman-teman, saya kesulitan untuk membeli makanan dan saya akan berjalan 7 mil melintasi kota setiap Minggu malam untuk mendapatkan satu makanan yang cukup murah di candi Hare Krishna. Aku menyukainya. Dan banyak yang saya temui saat itu karena mengikuti rasa ingin tahu dan intuisi, ternyata kemudian sangat berharga. Biarkan saya memberi Anda satu contoh:
Reed College pada waktu itu menawarkan mungkin seni desain terbaik di negeri ini. Seluruh kampus setiap poster, setiap label di laci, adalah tangan indah kaligrafi. Karena sudah DO dan tidak harus mengambil kelas normal, saya memutuskan untuk mengambil kelas seni desain untuk belajar bagaimana melakukan ini. Saya belajar tentang serif dan san serif tipografi, tentang memvariasikan jumlah spasi antara kombinasi huruf yang berbeda, tentang apa yang membuat tipografi yang hebat. Itu indah, bersejarah, artistik halus dalam cara bahwa ilmu pengetahuan tidak bisa menangkap, dan saya menemukan hal menarik.
Semua ini bahkan harapan dari setiap aplikasi praktis dalam hidup saya. Namun sepuluh tahun kemudian, ketika kami mendesain komputer Macintosh yang pertama, itu semua kembali kepada saya. Dan kami merancang itu semua ke dalam Mac. Ini adalah komputer pertama dengan tipografi yang indah. Seandainya saya tidak DO dan mengambil kelas kaligrafi, Mac tidak akan memiliki tipografi ganda atau font proporsional spasi. Dan karena Windows menjiplak Mac, kemungkinan bahwa tidak ada komputer pribadi yang akan memilikinya. Seandainya saya tidak DO, saya tidak akan pernah jatuh di kelas seni desain ini, dan komputer pribadi mungkin tidak memiliki tipografi yang indah yang mereka lakukan. Tentu saja mustahil untuk menghubungkan titik-titik itu sewaktu saya masih kuliah. Tapi itu sangat, sangat gamblang sepuluh tahun kemudian.
Sekali lagi, Anda tidak dapat menghubungkan titik-titik harapan, Anda hanya bisa melakukannya dengan merenung ke belakang. Jadi, Anda harus percaya bahwa titik-titik Anda bagaimana pun akan terangkai di masa mendatang. Anda harus percaya pada sesuatu intuisi, takdir, hidup, karma, apapun. Pendekatan ini tidak pernah mengecewakan saya, dan itu telah membuat semua perbedaan dalam kehidupan saya.
Saya sangat beruntung. Saya menemukan apa yang saya sukai dalam hidup. Woz (Steve Wozniak) dan saya memulai Apple di garasi mobil rumah orang tua saya ketika berumur 20 tahun. Kami bekerja sangat keras, dan dalam waktu 10 tahun Apple telah tumbuh dari hanya dua orang menjadi perusahaan miliaran dollar dengan lebih dari 4 ribu karyawan. Kami baru saja meluncurkan produk perdana, yakni Machintosh. Satu tahun kemudian, ketika saya berumur 30 tahun saya dipecat. Bagaimana mungkin kamu dipecat dari perusahaan yang dibentuk oleh tangan sendiri?
Cerita ini berawal ketika Apple memperkerjakan seseorang berbakat untuk menjalankan perusahaan bersama saya. Untuk tahun pertama, semua berjalan dengan baik. Namun kemudian visi kami mulai berbeda, sehingga Apple sempat jatuh. Saat itu, Jajaran Direksi memihak kepadanya, hingga akhirnya saya mengundurkan diri. Ketika peristiwa itu terjadi, sangat merusak kehidupan awal 30-an saya.
Selama berbulan-bulan, saya tidak tahu apa yang harus dilakukan. Saya merasa bahwa saya telah mengecewakan generasi entrepreneur yang sebelumnya. Saya merasa seperti sebuah kesalahan publik. Namun sesuatu seperti telah membangkitkan saya - Saya masih mencintai bidang pekerjaan saya. Keluarnya saya dari Apple tidak mempengaruhi perasaan tersebut sama sekali. Saya telah dibuang, namun saya masih mencintai bidang pekerjaan tersebut. Hingga akhirnya saya memutuskan untuk memulai kembali semuanya.
Beratnya menanggung kesuksesan telah diganti oleh ringannya menjadi seorang pemula lagi. Hal ini pula yang membuat saya memasuki masa paling kreatif dalam hidup.
Selama kurun waktu lima tahun berikutnya, saya memulai sebuah perusahaan bernama NeXT, dan perusahaan lain yang bernama Pixar, serta jatuh cinta dengan seorang wanita yang kemudian menjadi istriku. Pixar kemudian membuat film animasi komputer pertama di dunia, Toy Story, dan kemudian menjadi studio animasi tersukses di dunia. Kemudian Apple pun membeli NEXT, dan saya kembali ke Apple. Teknologi yang kami kembangkan di NeXT adalah 'jantung' dari kebangkitan Apple. Lauren dan saya pun akhirnya membentuk sebuah keluarga yang bahagia.
Saya yakni bahwa hal-hal ini tidak akan terjadi jika saya tidak tidak dipecat sebelumnya dari Apple. Meski terasa seperti pengobatan yang mengerikan, tapi saya rasa sang pasien sangat membutuhkannya. Kadang-kadang hidup suka menginjak kami, tapi janganlah pernah kehilangan keyakinan. Saya yakin bahwa satu-satunya hal yang membuat saya terus berjalan adalah karena saya tetap melakukan apa yang disukai. Anda harus menemukan apa yang dicintai. Dan hal itu merupakan hal yang benar, sama seperti kamu mencintai kekasih hati. Pekerjaan Anda akan menjadi bagian terbesar dalam hidup, dan satu-satunya cara untuk merasa puas adalah mempercayai bahwa hal yang dilakukan merupakan pekerjaan terhebat.
Dan satu-satunya cara untuk melakukan pekerjaan hebat adalah mencintai apa yang kamu lakukan. Jika kamu belum menemukannya, maka janganlah berhenti mencari. Jangan berhenti. Ikuti saja kata hati, kamu akan tahu kapan akan menemukannya. Sama seperti hubungan persahabatan; akan semakin baik dari tahun ke tahun. Jadi teruslah mencari sampai kamu menemukannya. Janganlah berhenti
Ketika saya berusia 17 tahun, saya membaca sebuah kutipan bertuliskan 'jika kamu hidup setiap hari seperti hari terakhirmu, maka hal yang dilakukan adalah hal-hal yang benar'. Kutipan tersebut sangat berkesan bagi saya. Semenjak itu saya selalu berkata pada diri saya: 'jika hari ini merupakan hari terakhir dalam hidup saya, maka hal apa yang akan saya lakukan hari ini?' Saya tahu bahwa ada sesuatu yang perlu diubah
Mengingat bahwa saya akan segera meninggal merupakan alat yang penting bagi saya untuk membuat pilihan-pilihan besar dalam hidup. Karena semua hal; entah itu harga diri, takut akan gagal, akan hilang di hadapan kematian. Dengan mengingat bahwa akan meninggal dunia merupakan cara terbaik bagi saya untuk menghindari jebakan-jebakan pemikiran. Tidak ada alasan untuk tidak mengikuti kata hatimu sendiri.
Pada tahun 2004 saya didiagnosa terkena kanker. Saya di-scan pukul 7:30 pagi, dan tes tersebut dengan jelas menunjukkan sebuah tumor di pankreas saya. Saya sendiri tidak tahu apa itu pankreas. Dokter memberi tahu saya bahwa itu adalah jenis kanker yang tidak dapat disembuhkan, dan memberi tahu bahwa hidup saya ke depan bakal tak lebih dari tiga sampai enam bulan. Dokter saya menganjurkan agar segera ke rumah dan memberitahukan hal tersebut kepada keluarga.
Saya hidup dengan hasil diagnosis tersebut setiap harinya. Pada sorenya saya menjalani tes biopsy, ketika mereka memasukkan sebuah endoskop ke dalam tenggorokan dan perut saya, serta memasukkan jarum ke dalam pankreas saya. Mereka pun menemukan sel tumor di dalamnya. Saya sendiri tenang dalam menjalani tes tersebut. Pihak dokter menyatakan bahwa kanker tersebut merupakan jenis yang langka yang disembuhkan hanya melalui operasi. Saya pun dioperasi dan kini baik-baik saja.
Hal tersebut merupakan hal terdekat saya dalam menghadapi kematian, dan saya harap itu yang 'terdekat' untuk kurun waktu beberapa dekade ke depan.
Tak ada seorang pun yang ingin meninggal. Bahkan orang-orang yang ingin masuk surga juga tidak ingin mati untuk menuju ke sana. Namun kematian merupakan tujuan dari kita semua. Tidak ada yang bisa menghindari kematian, dan memang seharusnya seperti itu, karena kematian merupakan salah satu penciptaan terbaik dalam konsep Kehidupan. Hidup adalah sebuah agen perubahan: menghilangkan yang tua untuk memberi jalan untuk yang muda. Saat ini Anda muda, namun tidak lama kemudian Anda kan menjadu tua dan mati. Maaf sedikit dramatis, tapi hal itu memang benar.
Hidupmu itu sangat terbatas, jadi janganlah disia-siakan. Jangan terjebak dalam dogma. Jangan biarkan pendapat orang lain menenggelamkan pendapat pribadimu. Dan yang terpenting adalah miliki keberanian untuk mengikuti hati dan intuisimu, karena hal-hal tersebut seperti sudah mengetahui 'kamu itu akan jadi apa'.
Ketika saya muda, ada sebuah media bagus bernama The Whole Earth Catalog, yang merupakan 'kitab suci' untuk generasi saya. Media tersebut dibuat oleh Steward Brand yang memberinya sentuh puitis dalam penulisannya. Media itu hadir di tahun 60-an, jaman sebelum penerbitan hasil PC muncul. Semuanya masih terbuat dari mesin ketik, gunting dan kamera polaroid. The Whole Earth Catalog ibarat seperti Google dalam format cetak.
Stewart dan timnya mengeluarkan beberapa edisi The Whole Earth Catalog, hingga akhir mengeluarkan edisi terakhir pada pertengahan tahun 70-an. Sampul untuk edisi terakhir tersebut bergambar sebuah jalanan pedesaan yang kosong, di bawahnya pun ada tulisan 'Tetaplah lapar, tetaplah bodoh'. Itulah pesan terakhir di The Whole Earth Catalog. Kata-kata itulah yang selalu ada di benak saya. Kini anda sebagai lulusan baru akan memulai hal tersebut. Itulah yang saya harapkan kepada kalian.
Stay Hungry. Stay Foolish.
Terima kasih banyak.
(dikutip dari okezone.com)
Sayang beliau telah tiada, tetapi jejak kehidupannya masih akan akrab di sekeliling kita. :)
6 Oktober 2011

Sabtu, 01 Oktober 2011

Cinta Paling Nyata


Cinta Paling Nyata
Oleh Kunto Nugroho

Kekasih telah tiada, merajang nyawa dalam api membara. Ruhnya melayang di jagat semesta, mencari jasad baru yang belum mampu mengucapkan kata.

Kekasih telah tiada, tetapi segalanya tetap sama. 

Pagi hari kita masih bersama pergi ke taman dengan Kinan, anjing kesayanganmu. Sebelum akhirnya aku pergi bekerja kamu masih sempat mengecup keningku dengan bibir mungilmu. Bibir mungil yang memerah dengan gincu murah pemberianku. Sore hari kita bertemu menikmati mocha frappe di cafe kegemaranmu. Selepas itu kita masih sempat pergi ke bar menikmati bir yang membuat aku dan kamu melayang, melupakan kejadian kematianmu yang mengenaskan. Getir. Sampailah malam, aku dan kamu masih bersama melewati malam berteman desahan kenikmatan di atas ranjang besar dengan lampu redup menyamarkan pandangan penuh kemabukkan.

Kebersamaan kita memang tidak pernah pergi sekalipun jasadmu telah tiada. Jasad seakan tidak lagi penting untuk kita. Aku dan kamu, yang selalu bersama di setiap waktu telah melupakan batasan fisik. Kita terpendam bersama setiap saat, bahkan ketika aku berada di kantor kamu seakan tidak pernah melepaskan perhatian padaku, menatapkan dari jarak sangat dekat. Lekat. Tanpa sekat. Aku tidak terganggu. Tidak pernah. Aku senang kamu selalu di sisiku. Menemaniku yang hampir pernah ikut kehilangan ruh, sebelum kamu dengan cepat menemukan jasad kosong, kemudian terus menemaniku hingga hari ini. Terkadang aku bersyukur lidah api melilit habis jasadmu. Dengan begitu ternyata kita semakin dekat. Semakin tiada batas. Bebas.

Tidak pernah kata bosan menghampiriku, sekalipun aku selalu melewati rutinitas kerja yang sama. Sekalipun pertemuan kita selalu setiap saat, setiap menit, setiap detik jam yang berdentik ringan. Waktu berjalan tanpa pernah berhenti untuk istirahat, seperti cintaku padamu.

Aku tidak membutuhkan orang lain dalam hidupku, kerena kamu. Karena kamu yang selalu bersamaku di setiap waktu hidupku. Tetapi sekali malam kamu pernah berkhianat! Pergi tanpa meninggalkan pesan untukku. Aku kalut malam itu, berusaha memikirkanmu namun aku tidak lagi ingat wujudmu. Aku meraung-raung karena kebingungan hendak mencarimu ke mana. Kutenggak wiski sepuluh botol langsung tanpa jeda, wajahku sudah memerah seperti bibirmu, tak lama cairan perut mulai bergejolak keluar disertai makanan yang tadi sore kita makan bersama. Aku masih meraung hingga lelah menghampiri dan aku tertidur di kamar mandi.

Pagi hari kamu kembali. Aku membentakmu dengan kasar tetapi kamu hanya diam tertunduk tanpa menjelaskan prihal kepergianmu. Aku memelukmu dalam-dalam atas rasa cinta yang memang masih sangat kuat, dan kamu berjanji tidak pergi lagi barang sedetik pun. 

Sebelum aku ke kantor kita masih sempat membuat bekal bersama disertai bercinta penuh hasrat karena kerinduanku semalam. Kecupan kecil kamu tambatkan di dahiku sebelum aku memasuki mobil.
Hari demi hari berlalu, tanpa kamu pernah meninggalkanku lagi sedetikpun. Hubungan kita semakin intim. Aku berniat manikahimu atas komitmenku padamu. Ya,  malam itu di restoran yang empat tahun lalu kusampaikan isi hatiku, kali ini akan kusampaikan niat besarku mengajakmu ke pelaminan. Aku merahasiakan niatku, tentunya ingin menjadikan ini semua kejutan untukmu. Aku berusaha menebar humor ringan memastikan suasana hatimu baik. Tawa kecil kita membahana di seisi restoran, samar memang terdengar. Aku berharap tidak ada yang terganggu dengan tawa kita, tetapi sesekali orang-orang  melirik aneh pada kita. Apakah aneh ada yang gembira di sini? Entahlah, aku tidak terlalu mempedulikan. Atau memang tidak peduli. Mungkin karena aku sudah terbiasa dengan lirikan semacam itu di saat kita sedang bersama, bersanda gurau, bermesraan, atau bertengkar kecil sekalipun.

Setiap orang mencari kebahagiaan, termasuk aku. Demi kebahagiaan itu aku indahkan rasa risih dilirik aneh yang mungkin untuk banyak orang merasa risih dilirik semacam itu. Aku ingin bahagia, dan malam itu benar-benar terjadi. Kamu menerimaku. Menerima lamaranku. Kita akan menikah. Kita akan memiliki anak. Anak kita! Hidup kita tidak akan lagi hanya berdua. Berapa banyak anak yang ingin kamu miliki? Dua. Tiga. Empat. Atau sepuluh! Cintaku tidak akan pernah hilang padamu. Kita akan terus bersama.

Kapan kita menikah? Biar nanti kita bicarakan masalah itu bersama. Malam ini aku ingin kita lebih intim. Menikmati redup sinar bulan di teras, tanpa bir, tanpa obat-obat penenang dari psikiater yang sering diberikan padaku. Aku ingin menjalani malam ini dalam kesadaran penuh.

***

Ternyata pernikahan kita tidak pernah terjadi. Kamu meninggalkanku setelah malam penuh cinta dengan kesadaran penuh itu kita lewatkan. Ternyata malam-malam yang dipenuhi alkohol dan obat penenang jauh lebih indah dibanding malam dengan kesadaran. Kemana kamu? Dimana aku bisa mencarimu? Apakah cintaku tidak berarti untukmu? Kamu bosan? Semalam kamu terlihat bahagia dengan rencana kita. Kenapa Kasih?

Hari demi hari berlalu. Kamu tidak lagi pernah hadir dalam detik-detik kehidupanku. Aku ikut pergi, dari satu tempat baru ke tempat baru lainnya. Mencarimu. Berharap ruhmu menemukan jasad baru, dan kita bisa kembali bersama.

***

Kekasih telah tiada, merajang nyawa dalam api membara. Ruhnya melayang di jagat semesta, mencari jasad baru yang belum mampu mengucapkan kata.

Aku hanya mampu menatap tubuhmu tenggelam dalam lautan api. Tanpa kata. Kemudian kamu hadir. Seketika pikiranku terisi oleh mu.

Jatinangor, 22 September 2011