Minggu, 21 November 2010

Berkata dalam Diam, Bahagia dalam Kesepian


Ini adalah hari ke-21. Hari ke-21 ia menanti di pagi buta, ketika remang-remang cahaya matahari belum juga tiba. Ketika bulan masih menghiasi langit ramun. Ia sendiri duduk di teras menanti seseorang – atau sesuatu. Sesuatu yang ia tahu akan hadir. Pasti hadir. Dan ia menanti lebih dini, tidak mau tertinggalan barang sedetikpun.
Ini adalah hari ke-21 ia menjadi pencinta azan subuh. Azan yang melantun berbeda dengan azan-azan lain. Azan yang terlantun lembut seperti musik jazz yang lembut tetapi beritme menggairahkan. Keserasian antara ujung malam dengan lantunan lembut azan subuh selalu membuat ia terdistorsi.
Ini adalah hari ke-21 yang telah ia lewatkan setelah sebelumnya tanpa sengaja ia terbangun begitu pagi dan mendengar seseorang seperti bernyanyi dikejauhan dengan bahasa yang tidak ia mengerti tetapi terdengar memanggil. Kala itu, ia keluar berdiri di teras sendirian, menikmati 3 menit terindah. Dan setelah itu ia tidak pernah melewatan pagi buta untuk kembali ber-deja vu dengan kesepian.
Ini adalah hari ke-21 ia terbangun sebelum pukul 3 pagi. Ia basuh wajah, lengan, dan kaki untuk menghilangkan kantuk dan menyegarkan kesadarannya karena tak lama lagi ia akan menikmati momen subuh terbaik saat azan. Ia tuang air putih ke dalam gelas, meletakkan gelas di meja teras dan ia mulai menanti momen itu.
Ia adalah orang mapan yang hidup sendiri. Hidup sendiri mungkin telah menyajikan kesepian yang teramat di usianya yang telah mencapai ujung kepala tiga. Tanpa keluarga. Hanya kerabat yang sesekali datang. Kesepian telah menggerogoti hatinya membuatnya menjadi seorang yang sangat melankolis. Ia melawan kesepian dengan kesepian untuk mendapat kebahagiaan.
Malam tadi ia baru tidur 2 jam, kerjaannya terlalu menumpuk. Tetapi ia selalu memilih untuk tidak melanjutkan tidurnya jika jam di dinding kamarnya menunjuk angka tiga, ia akan tetap menanti lantunan indah itu.
Mengenai kesepiannya, tidak ada sisa hari selain pagi buta yang mampu mengobatinya. Tengah hari selalu ia habiskan di belakang meja kerja. Sebagai seorang akuntan, komputer yang membuatnya bersikap seperti robot hidup telah menjadi teman sejati. Teman sejati? Sebutan macam apa itu. Teman yang sejatinya menghadirkan kebahagiaan justru menghancurkannya menjadi manusia yang tidak lagi manusiawi. Tidak jauh berbeda begitu malam menjelma, kemacetan menjadi sahabat temporarinya hingga ia tidak lagi mampu menikmati malam, terlebih hujan malam yang semestinya mampu menghadirkan kehangatan, justru hanya keluh yang ia rasakan.
Tidak lama lagi penantiannya. Ia selalu memiliki kekuatan dalam penantiannya. Ya, sama seperti 4 tahun yang lalu ketika ia menanti kekasih hatinya di meja makan yang telah ia persiapkan dengan begitu baik. Itu adalah waktu yang tepat untuk mengatakan rencana masa depannya dengan sang kekasih. Ketika hatinya bercahaya remang seperti lilin di meja makan, begitu sempurna persiapannya. Berbeda dengan penantiannya pada azan subuh yang pasti datang, kekasih hatinya tak kunjung datang hingga lilin remang itu tertiup angin malam dan dingin menggigit. Hatinya ikut padam.
Apakah ia marah dengan kejadian itu? Entahlah, siapa yang tahu selain dirinya. Tidak ada lagi yang ia nanti setelah malam itu hingga 21 hari yang lalu, ia menemukan sesuatu yang bisa ia nanti. Sesuatu yang pasti kedatangnya. Sesuatu yang tidak lagi membuatnya patah hati. Sesuatu yang tidak akan membuatnya kecewa. Azan subuh.
Tidak lama lagi. Sedikit lagi akan datang. Penantiannya telah sempurna, kebahagiaan ke-21 tak lama lagi.
Allahuakbar... Allahuakbar....
Ahh... tiba juga. Ia berhenti menanti. Ia pejamkan matanya. Ia fokuskan pendengarannya.
3 menit terindah dalam satu hari.
***
Ia masih terdiam setelah azan subuh berakhir. Matanya masih terpejam, nafasnya dalam. Pintu rumah sebelah rumahnya terbuka, seorang wanita berbusana panjang keluar berjalan perlahan menuju sumber azan subuh. Orang-orang lain mulai mengikuti. Ia melangkah masuk, menutup pintu kemudian menuju kamarnya. Mendudukkan diri tepat di depan kasurnya. Ia telungkupkan telapak tangannya. Matanya kembali terpejam, kepalanya tertunduk khusyuk. Kembali kebahagiaan hadir dalam kesunyian yang remang di kamarnya. Di hadapannya terpahat salib dengan putra Tuhan yang lesu namun terlihat tegar dan kuat. Ia mulai doa pagi.
“Tuhan, Kau telah pertemukan aku dengan kekasih sejati yang menghadirkan kebahagiaan sesungguhnya pada ku. Izinkan aku menemuinya dan izinkan aku tetap bersamanya hingga akhir hidupku.”
Jatinangor, 20 Oktober 2010

Selasa, 21 September 2010

Malam Terakhir


Seorang wanita paruh baya menangis dalam malam. Matanya menerawang dalam-dalam menatap talapak tangan yang kosong menadah. Pakaiannya putih menutupi seluruh tubuhnya,  terkecuali wajahnya yang telah basah oleh jernihnya air yang keluar dari dua sumber mata air di wajahnya.
Esok malam ia akan kehilangan kesunyian malam yang spesial hanya di bulan ini*. Dan ia akan kembali melewatkan malam dalam dekapan pria beraroma alkohol.
Tanpa sedang menyalahkan apapun dan siapapun atas keadaannya, ia tetap larut dalam tangis sendu. “Selamat tinggal bulan, kau pemerkosa terbaikku disetiap tahun.”
Jatinangor, 6 September 2010
Catatan
*) Bulan Ramadan

Kamis, 02 September 2010

Bicara Itu...


Gw ga inget kapan kejadian ini terjadi, tetapi seperti vaksin cacar zaman dulu yang bekasnya tidak hilang. Inti percakapan itu pun tidak pernah hilang dari pikiran gw. Bicara itu mudah,To. Benarkah bicara itu mudah?
We can, if we think we can. Atau nothing impossible. Apakah sangat mudah mengatakannya? Ya.
Berbicara memang mudah tetapi yang lebih mudah lagi adalah tidak mempercayai diri untuk bisa melakukan sesuatu. Lebih mudah lagi berdiam diri. Lebih mudah lagi tidak peduli. Lebih mudah lagi diam.
Berbicara tidaklah mudah untuk mereka yang konsisten dengan perkataanya. Tidak mudah untuk mereka yang merasa bertanggung jawab dengan apa yang dikatakan. Tidak mudah untuk mereka yang meyakini perkataannya. Tidak mudah untuk mereka yang melakukan apa yang dikatakan. Dan mereka itu adalah orang-orang yang mau mempersulit diri untuk menjadi lebih baik.
Untuk mereka yang meyakini berbicara itu mudah, berdiam dirilah. Karena itu akan lebih mudah lagi.

Kamis, 05 Agustus 2010

Pamer(an)

foto 1.
Maukah kau duduk di sebelahku?
Menemani kesendirian ku di sore ini.
***
itu gambar diambil di belakang kosan. Tentunya melalui proses editing dengan PhotoShop karena langit sedang mendung. Tetapi karena keterbatasan kemampuan ku dalam melakukan editing, hasilnya, ya, hanya seperti itu.

foto 2.
Ketika ku amati yang abstrak.
Sekelilingku menjadi abstrak.
***
ini diambil di pameran wall street art, Jakarta. Ini juga udah diedit. tapi sebagai catatan, saya hanya melakukan editing di warna dan pencahayaan. Untuk gambar ini hanya pencahayaan yang saya edit, sisanya orijinal.

Jumat, 23 Juli 2010

Surat untuk Mu


Saat masuk yang kulihat hanya lidah-lidah api membara, yang kudengar hanya teriakan menusuk telinga. Yang ku cium hanya bau gosong. Apa aku salah pintu?
***
Dear my Lord…
4 hari yang lalu, Kau bakar tubuh ku dengan api neraka. Karena aku suka bersetubuh dengan wanita yang tidak semestinya aku setubuhi.
Keesokan harinya, Kau potong lidah ku dengan pedang yang sangat besar.  Karena aku suka bergunjing dan menfitnah musuh-musuh ku, terkadang juga teman ku.
Keesokan harinya lagi, Kau congkel mataku dengan jarum yang sangat tipis. Karena aku suka pergi ke etaslase wanita tak berpakaian. Merogoh kantong. Menghitung lembaran-lembaran uang, jika cukup aku akan masuk dan ‘menyewa’ salah satunya.
Dan kemarin aku menemukan keajaiban di sini. Selembar kertas dan sebuah pulpen. Selama hidupku aku telah puluhan tahun menjadi editor buku. Tanpa mata aku mampu mengenali kertas dan pulpen. Tanpa mata pula aku masih bisa menulis surat ini untuk Mu. Selama hidupku di dunia aku menjadi editor  penerbit buku keagamaan. Berbagai buku karangan ulama-ulama ataupun pendeta-pendeta aku percantik. Aku ubah lebih menyentuh. Lebih mudah dipahami. Aku yakin Kau tahu itu. Tuhan, mungkin Kau lupa menghitung jumlah orang yang membaca buku yang aku edit hingga mereka bertobat atau semakin ikhlas menyembah Mu. Sepertinya itu bisa memindahkan ku dari tempat ini.
Trims my lord. Telah meletakkan kertas dan alat tulis ini. Sejujurnya, aku penasaran. Tadi aku meletakkan kertas ini di atas lidah api yang 4 hari lalu menggosongkan tubuh ku. Biarlah, logika ku tidak sampai. Lidah api ini tidak merusak kertas sedikit pun. Mungkin Kau menggunakan bahan khusus untuk membuat kertas ini tahan api.
Untung lah aku masih bisa menulis dengan tangan yang belum Kau potong.
***
Dear my Lord,
Terima kasih sudah membalas surat ku. Kemarin aku membaca surat Mu yang Kau  tulis dengan huruf brailer. Sepertinya Kau masih ingat saat usiaku 34 tahun aku mengalami kecelakaan mobil beruntun, untung lah aku masih hidup. Aku lupa sebaiknya tidak mengemudi saat mabuk. Dari kejadian tersebut saraf mataku terputus. Tidak berfungsi. Berbagai terapi alternatif, obat herbal, obat kimia, operasi penyambungan saraf hingga dukun di perkampungan tidak ada yang berguna. Aku masih saja melihat kain hitam yang melekat di mata ini. Aku pun jadi malas melakukan pengobatan lagi, sehingga aku belajar huruf baru ini. Aku ingat, setelah 1 tahun dan aku sudah menguasai huruf ini Kau memberi keajaiban. Mata ku kembali berfungsi, dokter-dokter yang ku kunjungi hanya bisa geleng-geleng kepala (membuat ku tergoda untuk memenggalnya).
Kau tulis dalam surat itu, jumlah orang yang membaca buku hasil editan ku masih kurang untuk memindahkanku dari tempat ‘gila’ ini.
Kemarin setelah aku membaca surat Mu, utusan Mu datang. Ia cabut gendang telinga ku dengan tangannya sendiri, entah bagaimana tangannya bisa masuk ke lubang telinga yang kecil ini. Awalnya geli tangan itu masuk, setelah itu rasanya aku ingin pingsan. Sakit sekali. Sebelum pencabutan itu utusan Mu menjelaskan karena aku suka mendengar penderitaan tetangga ku tetapi aku selalu pura-pura tidak mendengar. Pura-pura tidak tahu. Terkadang aku menggunakan apa yang aku dengar untuk bergunjing dengan serunya bersama teman-teman ku. Aku ingat, sangat seru waktu itu.
Sebelum ia cabut gendang telinga ku, ia mengatakan serenteran agenda penyiksaan untuk ku.
Besok tangan ku akan di potong dengan pedang yang digunakan untuk memotong lidah ku beberapa hari yang lalu. Karena aku suka memukul istri ku.
Keesokan harinya, ia akan mencabut hati ku. Karena aku jarang memakainya ketika di dunia. Tidak ada gunanya memiliki sesuatu yang tidak kau manfaatkan, jelasnya.
Maaf jika tulisan ku kali ini berantakan. Aku terburu-buru. Khawatir, utusan Mu datang  sebelum surat ini selesai ku tulis. Aku belum punya ide cara menulis surat untuk Mu jika tangan ini dipotong. Saat di dunia Kau belum pernah memberi ilmu kepada ku cara menulis dengan kaki, bukan? Atau dengan mulut?
Surat ini mungkin bisa menjadi surat terakhir ku untuk Mu. Dan bisa jadi ini cara terakhir ku memohon pertolongan Mu. Permohonan terakhir ku, ceritakan surat ku ini pada rasul-rasul Mu di dunia. Setelah itu tolong hitung orang-orang yang membacanya, mungkin jumlahnya bisa memindahkan ku.
Trims my Lord…
Hei, sepertinya utusan Mu sudah datang. Ada yang menepuk pipi ku. Tepat waktu sekali dia.
***
Tadi kaki ku dipotong utusan Tuhan. Dulu aku tidak menggunakan kaki ini untuk beribadah. Lebih sering menendang hamba Tuhan yang sedang beribadah. Istriku.
Bisa bayangkan diriku sekarang. Tanpa bola mata. Tanpa lidah. Kuping yang terus mengeluarkan nanah. Tanpa tangan. Berbadan bolong karena saat utusan Tuhan mencabut hatiku ia  justru membolongi tubuhku. Seandainya ia memanfaatkan lubang-lubang yang sudah ada di tubuh ini. Dan sekarang tanpa kaki. Ha ha ha, aku jadi teringat pernah meludahi seorang bocah berpenampilan seperti ini. Si cebol, aku menyebutnya. Anakku. Saat itu aku sudah tidak tahan melihat penampilannya.
Utusan Tuhan itu memegang pundak ku. Aku hanya diam karena tidak tahu apa yang dia lakukan. Sesaat kemudian ia tempelkan sesuatu ke badan ku. Entah apa itu. Badan ku yang sudah melepuh ini tidak lagi dapat membedakan sesuatu.
Apakah itu surat balasan dari Tuhan?
Tuhan, jangankan membalas surat Mu kali ini. Membaca surat Mu saja aku sudah tidak bisa.
***
Itu penyiksaan terakhir untuk mu. Bersabarlah di sini. Ada waktunya penyiksaan ini berakhir. Ini ada surat balasan dari Tuhan. Ah, aku sudah banyak memotong tubuh mu, mencongkel mata mu. Pasti kau tidak bisa membaca surat ini. Baik lah, aku baca kan saja.
Wahai hamba ku. Percuma kau edit buku-buku keagamaan. Banyak orang tergugah hatinya setelah membaca buku-buku tersebut. Tetapi kau sendiri tidak paham. Aku sudah tidak mengutus rasul di muka bumi. Kiamat sudah terjadi.
Ah, aku lupa gendang telingamu sudah dicabut. Sia-sia. Kau simpan saja surat ini.
***
Aku sendiri. Merasa sendiri. Seandainya, aku dilahirkan menjadi wanita jalang yang beruntung bertemu anjing malang. Cukup ku beri makan seadanya anjing tersebut. Seingat ku dari buku yang ku baca wanita itu masuk surga. Beruntungnya dia. Apakah aku pernah bertemu ‘anjing-anjing’ malang? Tidak. Di daerah ku mereka hanyalah hewan-hewan najis yang hanya layak menderita dilempari batu-batu. Sama menderitanya dengan ku saat ini. Terbuang dan tidak berarti. Ada yang mau menolong ku, si ‘anjing’ malang ini? bisa jadi kalian masuk surga setelah menolong ku.
Akan ku tunggu, sampai kalian datang…
Jatinangor, 5 Juli 2010

Selasa, 13 Juli 2010

Kenapa Hujan?


Sudah 3 hari ini hujan selalu turun di sore hari. Membuat ku terjebak di halte reot dengan atap bocor. Menyebalkan juga mengalami kejadian seperti ini berturut-turut. Pagi terlalu cerah untuk dicurigai akan turun hujan, sehingga tak ku siapkan payung dalam tas. Siang terlalu terik, sehingga tak ku percepat setumpuk tugas untuk diselesaikan. Dan kembali aku terhenti di halte ini untuk ketiga kalinya.
Sebenarnya aku membawa payung lipat pagi ini. Walupun cerah, aku tidak mau tertipu lagi seperti hari-hari sebelumnya. Dan benar saja, sore ini kembali hujan. Sayang, hujan beserta angin kencang membuat payung ku tidak banyak bermanfaat, jadi ku pikir lebih baik berdiam di halte ini sambil menunggu taksi.
Kakak-adik itu duduk sekitar 1 meter di sebelah ku. Kelihatannya sore ini hujan bukan hanya mengerjai ku. Payung yang terlalu kecil untuk mereka berdua pasti tidak berguna saat ini. Sepatu mereka sudah lepek. Kasihan juga melihat mereka, bisa jadi besok mereka sakit.
Sudah 1 jam. Hujan tidak kunjung mereda. Kami hanya membeku melihat butiran-butiran air yang terbawa angin. Jalanan sepi dan taksi ku tak kunjung datang. Mata ku kosong menatap hujan, pikiran ku membayangkan kamar yang hangat, tidur berselimut hangat dan nyaman. Sampai kapan hujan ini? Sampai kapan taksi datang? “Kak, lama banget hujannya.” Keheningan terlalu pekat untuk memulai percakapan antara kakak-adik ini. “Kak!” lanjut si adik memaksa memulai percakapan. “Iya, mungkin masih lama lagi baru reda. Salah bawa payung ni. Kalo bawa yang besar pasti kita sudah di rumah.” Jawab kakak yang masih sedikit malas meladeni, tetapi percakapan mereka sudah dimulai.
“Kak, aku suka hujan.”
“Kenapa?”
“Dingin.”
“Iya, biasanya kalau kita pulang selalu kepanasan ya.”
Ga banyak kendaraan.”
“Kakak, juga suka hujan.”
“Kenapa,ka?”
“Jadi sepi. Waktu seperti berhenti.”
“Iya, jadi ada alasan telat pulang.”
Lamunan ku akhirnya terusik juga mendengar mereka. Selama 3 hari ini tidak pernah terpikir sedikit pun ‘apa aku suka hujan?’. Yang jelas hujan ini telah mengganggu waktu istirahat ku. Menjebak ku di halte yang sama.
“Kak, tadi di kelas teman aku bacain puisi tentang hujan.”
“Mmm.. judulnya apa?”
“’Hujan di Laut’.”
“Kemarin, kakak baca cerpen tentang hujan. Judulnya ‘Kaki Tangan Hujan’.”
“Kenapa ya, kak? Hujan suka jadi tema tulisan.”
“Kakak juga ga tau. Kita suka hujan, mungkin banyak orang yang juga suka hujan.”
Dari sudut mata ku perhatikan mereka. Sedikit terbesit di ingatan ku tentang sejumlah hujan yang pernah ku alami. Sebagian memang menginspirasi ku menulis cerpen di Koran minggu, sebelum aku bekerja di kantor. Membuat ku menjalani rutinitas yang terus sama setiap harinya. Menghentikan hobi menulis ku yang sejak kecil sudah tumbuh. Kapan aku terakhir menulis?
“Dik, kita lari saja yuk! Lama hujannya. Sampai rumah langsung mandi, jadi ga sakit.”
“Sebentar lagi kak.”
“Kak, punya makanan ga? Lapar…”
“Cuma sisa makan siang, ga apa-apa?”
“Iya.”
Lamunan ku berlanjut lagi. Kapan aku terakhir menulis? Mengirimnya ke Koran. Berharap cemas di hari minggu, apakah kiriman ku dimuat? Sedikit-sedikit aku masih mengingat masa itu. Tidak banyak materi yang ku dapat dari hobi menulis, tetapi aku selalu menyukainya. Pikiran ku seperti sudah terkunci dalam rutinitas setelah gelar sarjana melekat di belakang nama ku. Awalnya melamar kerja, kemudian kerja dan kerja. Terus-menerus hingga hari ini. Suara tetesan air hujan menyentuh atap halte, menyentuh tanah, aroma hujan seketika memunculkan keheningan yang telah lama tidak lagi ku rasakan. Waktu ku terasa menjadi lapang. Ya, sudah lama rasanya.
Sebuah taksi lamat-lamat terlihat dari kejauhan. Lampu di atas-nya yang menyala menandakan taksi ini harus aku hentikan. Ku tengok sekilas kakak-adik yang sedang berlari menjauh dari halte. Semoga mereka tidak sakit besok.
“Kemana, Pak?”
Malam ini teman ku adalah laptop. Bukan selimut hangat. Aku akan menulis lagi. Aku tahu temanya.
Hujan!

Rabu, 07 Juli 2010

Sungai itu


Sungai yang sangat lapang.
Airnya mengalir pelan.
Bergelombang lembut.
2 hari yang lalu, ditemukan mayat lelaki berusia 27 tahun mengapung di atasnya.
Kemarin, mayat anjing kampung dibawa arus pelan entah kemana.

“Bu, aku mau berenang di sungai besok.”
“Jangan nak, berbahaya.”
“Arusnya pelan ko bu.”
“Di bawah air yang mengalir pelan dengan gelombang lembut itu terpendam dendam.”
“Kenapa mendendam?”
“Dendam untuk hati yang terluka.”
“Dendam yang terus merenggut korban.”

Kait pancing ku mengait sesuatu. Berat sekali. Tangkapan besar, makan enak aku hari ini.

“Ditemukan Mayat Bocah Tenggelam”
Headline koran pagi ini.

Jumat, 18 Juni 2010

Indah tetapi...

Kabut pagi, menutupi jalan.
Warnanya putih, bersih.
Membuat orang tersesat.
Terkadang, hal-hal indah justru menutupi mata kita.
Menutupi dari jalan yang seharusnya kita lalui.
Memaksa kita menyalakan lampu ekstra terang untuk melihat langkah yang benar.

Selasa, 15 Juni 2010

Sendiri = Kosong


Tidak ada manusia yang mampu hidup sendiri. Setiap orang akan membutuhkan orang lain, walaupun hanya untuk sekedar berbicara. Seseorang yang bisa diajak bercerita, tanpa bermaksud menyombongkan diri. Seseorang yang bisa mendengar, tanpa menilai, tetapi mampu memahami.
Apakah dia sahabat? Teman? Kekasih? Orang tua?
Manusia tidak mampu hidup sendiri, karena hatinya akan kosong. Tanpa isi, seperti robot.

Minggu, 06 Juni 2010

Harapan


Hidup dengan harapan itu ibarat lu lagi ada di suatu tempat terbuka dengan angin sejuk yang bikin lu betah ada di tempat itu. Angin ini ga ngebantu lu buat hidup di tempat tersebut, tapi angin ini bikin lu nyaman  untuk terus berada di situ.
Harapan tidak membantu kita buat nyelesein masalah, tapi harapan yang buat kita bisa bertahan terus ada di dunia yang penuh masalah dan ketidakpastian.

Minggu, 09 Mei 2010

Manyun-manyun di Malam Hari


Takdir adalah ketetapan yang membuat kita sadar akan harapan.
Takdir adalah harapan  bukan kepastian.
 *inpirasi dari film Lord of The Ring

Minggu, 02 Mei 2010

Pantesan

Setelah ngurusin PKM-P selama mungkin 3bulan-an. Akhirnya pengumpulan kebutuhan-kebutuhan dah beres dan sekarang kami lagi ribet pengumpulan data. Asli, capek juga sabtu-minggu dibuat ngitung-ngitung  puteran  hamster. Apalagi sabtu ini kita nginep di lab nutrisi ternak. Kemungkinan sampe jam 11 malem baru data terkumpul, kemudian pengolahan data sebelumnya.
Sebenernya data-data sebelumya kami rasa masih banyak masalah walaupun belum masuk di pengolahan data dan analisis tapi data yang terlihat ko agak berantakan. Inilah pengalaman yang bener-bener bikin kami sadar pentingnya disiplin dalam penelitian. Bukan karena kami ngaret jadwal tetapi, apa yang kami lakukan saat penelitian. Coba bayangin waktu penelitian kami nyalain laptop, dengerin musik yang disetel dengan suara sedikit keras. Sambil ngerokok. Sambil ngobrol. Sayang ini baru disadari sekarang ketika pengambilan data tinggal sedikit lagi.
Yah, pantesan aja data-datanya ko aneh, seakan-akan kami hanya mengambil data untuk formalitas sementara data-data itu kami sadari kurang tepat. Tapi semoga bukan berarti kami gagal. Ini waktunya kami berbenah. Bisa jadi kami harus mengulang metode awal, dan kalau memang itu caranya, semoga kami bisa melakukan dengan tanggung jawab tinggi.

Senin, 26 April 2010

Manyun-manyun di malam hari

Kegagalan memberikan pelajaran lebih banyak dibanding keberhasilan
masihkah ku takut padanya?
-------------------------------------------------------------
Melewati malam dengan kesadaran = mendapat ketenangan
apakah malam ku kali ini juga?

Senin, 12 April 2010

Manyun-manyun di sore hari

Mereka yang merasa bukan siapa-siapa adalah orang yang suatu hari nanti menjadi siapa-siapa.

Kamis, 01 April 2010

Every Day Is A New Day


Ketika hari itu tiba.
Apakah aku siap bertanggung jawab?
Ketika hari itu tiba.
Dan seluruh masa lalu ku diperlihatkan.
Apa yang akan ku rasakan.
Bahagia?
Sedih?
Rindu?
Menyesal?
Tenang?
Kecewa?
Sebelum hari itu tiba.
Aku hanya bisa menjalani hari ini.
-----------------------------------------------------------------------------------------------
Sore-sore nyanyi-nyanyi di kosan. Padahal masih ada tugas, tapi menikmati hidup terkadang justru membawa kita ke tingkatan berbeda. Dibanding menjalani hidup dengan tekanan terkadang justru membawa kita pada kurungan – kotak kehidupan.

Five For Fighting – 100 Years
I'm 15 for a moment
Caught in between 10 and 20
And I'm just dreaming
Counting the ways to where you are
I'm 22 for a moment
She feels better than ever
And we're on fire
Making our way back from Mars
15 there's still time for you
Time to buy and time to lose
15, there's never a wish better than this
When you only got 100 years to live
I'm 33 for a moment
Still the man, but you see I'm a they
A kid on the way
A family on my mind
I'm 45 for a moment
The sea is high
And I'm heading into a crisis
Chasing the years of my life
15 there's still time for you
Time to buy, Time to lose yourself
Within a morning star
15 I'm all right with you
15, there's never a wish better than this
When you only got 100 years to live
Half time goes by
Suddenly you’re wise
Another blink of an eye
67 is gone
The sun is getting high
We're moving on...
I'm 99 for a moment
Dying for just another moment
And I'm just dreaming
Counting the ways to where you are
15 there's still time for you
22 I feel her too
33 you’re on your way
Every day's a new day...
15 there's still time for you
Time to buy and time to choose
Hey 15, there's never a wish better than this
When you only got 100 years to live

 

Setiap kehidupan kita akan meninggalkan masa-masa tertentu. Saya pernah kehilangan masa anak-anak, masa remaja, hingga sekarang saya baru masuk masa dewasa. Suatu saat nanti masa ini akan meninggalkan ku juga. Apakah akan begitu saja hilang? Tanpa kesan? Tanpa jejak? Aku hanya bisa menjalani ini sebaik yang aku bisa..

Sabtu, 27 Maret 2010

Pilihan Hidup


Apakah manusia punya pihan dalam hidupnya?
Ataukah manusia hanya menjalankan hidup yang telah dipilihkan untuknya?
Apakah keadilan memang benar ada – untuk manusia – untuk hamba – untuk budak Tuhan?
------------------------------------------------------------------------------------------------------------
Perempuan jalang di simpang jalan
Menyimpan tempayan dalam dada
Para pejabat datang menyapa
Melepas nafsu dan wanjalaha

Barusan nonton film “Jamila dan Sang Presiden”, film yang diadaptasi dari teater berjudul “Pelacur dan Sang Presiden”. Kalo ga salah tadinya film ini mau menggunakan judul yang sama dengan versi teaternya tapi judulnya terlalu vulgar, jadilah ‘Pelacur’ diganti ‘Jamila’.

Ibu menyebut kelahiranku adalah cahaya.
Ibu berbicara pada ku tentang kesucian dan harga diri.
Dan aku di sini Bu.
Di tengah kegelapan yang pekat.
Yang tak punya ujung.
Kesucian seperti apa bu?
Harga diri yang bagaimana?

Cerita film ini tentang seorang wanita yang dilahirkan di keluarga miskin. Ia dijual ayahnya. Akhirnya Jamila melarikan diri ke Jakarta, tinggal di keluarga terhormat. Tapi kedua laki-laki di keluarga tersebut bertingkah menjijikan. Seperti tidak memiliki pilihan dalam hidupnya, Jamila seperti terlahir menjadi pelacur dan pembunuh. Semakin lama Jamila tidak tahan dengan hidupnya. Ia memilih mengakhiri penderitaan hidupnya. Sebuah pilihan dalam hidupnya dan mati yang Ia pilih.
Adaptasi dari teaternya terasa banget. Walaupun gw belum pernah nonton teater, tapi dari dialog dan aktingnya beda banget dari film-film kebanyakan. Sangat khas.
Gw rekomendasiin ni film. Asli bagus banget!!!

Kamis, 11 Maret 2010

Menjadilah ku

Terjun bebas.
Terhempas tanpa penghalang.
Terjun bebas.
Terombang-ambing tanpa pengendali.
Sebuah kebebasan.
Sejenak.
Sebelum menyentuh tanah.

         Habis sudah. Tiadalah arti pikiran positif selama perasaan negatif mendampingi. Hidup dalam ke-naif-an. Bak berjalan dalam labirin. Bertindak dalam ke-munafik-an. Bak meminum kopi.

Apakah kalian mengerti aku?
Apakah kalian mau mengerti aku?
Aku tau, aku bukan apa-apa.
Hanya orang bodoh yang sok tau.
Hanya seorang yang naif.
Sekaligus munafik.
Ya.
Tapi, terimakasih.
Kalian menyadarkan ku dalam kegelapan dan tipu daya.
Aku tau siapa aku.
Setidaknya.
 
co-pas dari kuntonugroho.blogspot.com
blog sy yg lain. hehe ^^

Jumat, 05 Maret 2010

Melangkah

Tiada hari untuk merenung
Tiada hari untuk rehat
Hidup adalah perubahan
tapi
Selalu ada waktu untuk rehat sejenak
Selalu ada waktu untuk merenung
 karena
Perubahan bukan dengan rehat dan renungan
tapi
Pergerakan
maka
Aku tidak ingin terlalu lama rehat dan merenung

Rabu, 24 Februari 2010

Mencari mu


Dimana kau, sayang?
Aku merindukan mu.
Aku kehilangan mu.

Dimana kau, sayang?
Aku mencari mu.
Dan aku. Tidak menemukan mu.

Sayang, dimana kau?
Kembalilah.

Sayang, taukah kau?
Aku menangis.
Seperti hujan tipis siang ini.
Tipis.
Samar.
Tapi ada.
Tapi nyata.

Sayang ku wahai semangat ku.
Aku tidak ingin menjadi bulan.
Yang hanya berpendar saat malam.
Yang pendarnya karena pantulan sinar lain.
Sayang, jadikan aku bintang.
Yang berpendar kapanpun. Dimanapun.

Sayang, kembalilah..

Sabtu, 06 Februari 2010

Setelah Aku Tertidur


Ku lewati malam yang panjang lagi kali ini.
Aku suka malam.
Tidak ada yang mengganggu.
Membuatku tenang, hening.
Jika ku lihat keatas, miliaran bintang berpendar.
Berkedip-kedip.
Seperti mengikuti alunan musik.
Musik alam di malam hari.
Tapi aku suka saat subuh.
Matahari seperti mengintip.
Mengejutkan ayam-ayam.
Aku mulai berpikir kalau ayam berkokok karena dikagetkan matahari.
Aku biasa tersenyum karena pagi.
Lucu, melihat kejadian-kejadian di awal hari.
Aku juga suka antara pagi dan siang.
Aku suka kehangatanya.
Apa aku suka siang hari?
Tentu saja aku suka.
Walaupun aku suka keheningan tapi aku selalu ingin berkumpul dengan manusia.
Melihat mereka tertawa, mendengar mereka bercerita.
Seperti membawa kebahagiaan untukku.
Sore hari?
Ini waktu romantisku.
Melihat matahari berpindah ke sisi lain bumi.
Langit menjadi oranye.
Burung berterbangan ke sarang.
Dari sudut pandangku indah sekali.
Aku suka segala momen dalam hidupku.
Oh aku ingat!
Aku tidak suka tidur.
Itu membuatku kehilangan kesadaran.
Aku tidak mau kehilangan waktu sedetikpun untuk mengamati kehidupan ini.

Nanti, saat sinar matahari menyirami dan menghangatkan tubuhku.
Benda bergerigi akan mengoyak kulitku.
Taman ini akan kehilangan sebuah pohon tua rapuh.
Dibawahku biasa orang-orang tertawa, bercerita, mencari keteduah.
Besok, besok lagi, dan seterusnya, entah dimana orang-orang akan tertawa, bercerita, atau sekedar mencari keteduhan ditengah terik matahari.
Setelah aku tertidur. Selamanya..

Jatinangor, 6 Februari 2010
Sumber gambar http://4.bp.blogspot.com/_AG5Ii14tWtw/SciCaBPNMzI/AAAAAAAAAK4/N4DUlTJfDNo/s320/a+lone+tree.jpg

Senin, 18 Januari 2010

Hidup - Pikiran

Keheningan membuat tubuhku terdiam, sunyi tanpa gerakan. Tapi pikiranku, ia tidak terhenti oleh keheningan. Terus bergerak. Kualihkan pikiranku agar diam menyesuaikan keheningan, tapi tidak lama ia kembali terbang menerawang tanpa ku perintah. Apa seperti ini pikiran? Terus bergerak.

Seperti asap rokok yang terus keluar walaupun tidak dihisap, perlahan terbang ke angkasa. Bercampur dengan udara bebas. Ya, selama bara api hidup – asap rokok tidak akan hilang. Terus melalang buana, tanpa terkendali.

Ku perhatikan asap itu, mulai memenuhi ruang ini. Sama halnya dengan pikiran ku yang mulai memenuhi otakku. Ku buat ia berhenti – tapi ia terus muncul. Aku hidup, maka aku berpikir.

Ku matikan rokokku kali ini, asapnya perlahan hilang. Mati…